
Suara Wakil Rakyat – Jakarta, Sore itu Pak Kar sedang berbincang-bincang dengan kolega di restoran Steak on Top di atas Fieres Izzy Hotel, lantai paling atas. Berlokasi di Jl. Balai Pustaka, Rawamangun, restoran ini menyajikan olahan daging, seperti Steak, Beef Katsu dan lainnya. Beef Katsu yang dipesan Pak Kar disajikan setengah matang, lalu dimasak di atas Hot Plate panas agar matang sempurna. Dengan saus Creamy Mushroom, Beef Katsu disantap seperti makanan Jerman yang Pak Kar sangat familiar.
Pak Kar teringat ketika ia sedang berkuliah di Jerman. Salah satu makanan Jerman favorit Pak Kar, yaitu Schnitzel. Terbuat dari beragam daging, seperti daging babi, ayam dan kalkun yang dibalut dengan tepung roti dan digoreng dengan butter. Setelah daging tergoreng sempurna, saus spesial disiramkan di atas daging dan disajikan dengan potongan jeruk lemon. Cita rasa yang serupa dengan Beef Katsu yang dimakan Pak Kar, ternyata memiliki sejarahnya. “Origin” dari Beef Katsu merupakan adaptasi dari Schnitzel yang dibawa tentara Jerman saat itu.

Begitupun dengan Bangsa Indonesia, ternyata “Origin” bangsa ini merupakan pelayar dari Pulau yang amat jauh. Perkenalkan, Nenek Moyang Bangsa Indonesia adalah Bangsa Austronesia dari Pulau yang saat ini dikenal sebagai salah satu wilayah kekuasaan negara Republik Rakyat Cina, Taiwan. Bangsa Austronesia penganut matrilineal, yaitu urusan rumah tangga dipimpin oleh figur Ibu atau wanita secara umum. Sedangkan Pria adalah prajurit atau ksatria yang berburu dan sebagai pelindung desa. Dicirikan dengan tato sebagai penunjuk status sosial dan pengoleksi kepala musuh sebagai bentuk kegagahan. Ternyata budaya nenek moyang ini, tidak sepenuhnya hilang di Indonesia.
Pada kesempatan ini Pak Kar berteori mengenai Nenek Moyang Orang Indonesia. Pada zaman dahulu kala, hiduplah suatu bangsa di Benua Eurasia. Berlokasi di Cina Selatan, lebih tepatnya Asia Tenggara sekarang. Mereka hidup sederhana dengan bercocok tanam dan berburu babi dan rusa. Ksatria pemberani yang menjaga wilayahnya dari serangan Bangsa Utara. Namun kedatangan Bangsa Utara, membuat mereka harus tersingkir dari rumahnya. Sebagian dari mereka menyingkir ke Selatan, Vietnam bagian Selatan kini, sedangkan sebagian sisanya memutuskan untuk berlayar di lautan yang luas. Pelayaran bangsa ini, membuat mereka berlabuh di suatu pulau yang belum berpenghuni. Pulau ini sekarang dikenal dengan nama Pulau Formosa, Taiwan.
Mereka beradaptasi hidup di pulau yang jauh. Dengan segala keterbatasan, mereka berpaku pada kuasa laut. Mereka memuja laut layaknya dewi yang memberikan mereka kehidupan. Mempelajari rasi bintang dan arah mata angin, mereka menangkap ikan. Sedangkan dahulu mereka berburu di hutan yang lebat. Laut adalah sahabat baru mereka di dunia yang mereka baru kenal.
Setelah hidup lama di Pulau, mereka memutuskan kembali berlayar. Mencari wilayah baru yang mungkin akan mempermudah hidupnya. Sebagian dari mereka berlayar lebih ke Selatan dan lainya mencoba kembali ke daratan. Saudara jauh mereka yang masih hidup di daratan Asia kini dikenal dengan Bangsa Thai-Kadai. Reuni saudara lama menghasilkan pertukaran budaya yang ternyata sudah jauh berbeda. Hasil dari isolasi di Pulau membuat mereka tidak seperti Bangsa yang awal. Mereka mengenal teknik baru bercocok tanam, ternak ayam dan pembuatan peralatan dari tanah merah. Sedangkan mereka yang di lautan, telah sampai di Kepulauan Philipina. Pulau kecil-kecil membuat mereka semakin terisolasi antara satu suku dengan suku lainya.
Gelombang baru yang membuat mereka kembali hidup di Pulau, dibawanya kultur dari Benua Asia daratan. Budaya ini kemudian kembali menyebar dengan pelayaran yang selalu mereka lakukan. Dari Kepulauan Philipina, mereka sampai di Nusantara. Eksplorasi Pulau Sulawesi, Kalimantan hingga ke Pulau paling Timur, Papua. Pertemuan mereka dengan Bangsa Melanesia di pesisir Papua, terjadinya percampuran budaya, akulturasi dan asimilasi. Perjalanan mereka tidak berhenti di Papua, Mereka berlayar ke Oceania, Mikronesia, hingga ke New Zealand, bangsa Maori sekarang mereka dikenal.
Dari pelayaran mereka, telah sampailah mereka di Hawaii. Bahkan petualangan epic ini konon telah sampai di Benua baru Amerika, sebelum Columbus menemukannya. Bagi mereka yang hidup di Nusantara, ternyata berlayar tidak pernah berhenti. Dari hasil tes DNA yang dilakukan oleh orang-orang Madagaskar, ternyata sebagian nenek moyang bangsa ini berasal dari Nusantara. Zaman kerajaan, orang-orang Jawa berlayar dan diaspora suku Jawa terdapat di beberapa negara ASEAN. Dan di zaman kolonial, diaspora mereka juga telah sampai ke Suriname yang merupakan keturunan suku Jawa.
Perkenalkan, ini adalah Bangsa Austronesia, bangsa yang sangat besar yang menguasai lautan. Bangsa yang hidup dari hasil laut dan laut adalah rumah bagi mereka hidup. Kapal bercadik satu yang berevolusi menjadi kapal raksasa Jong Java. Teknik pembuatan kapal raksasa yang disalin oleh bangsa-bangsa lain, seperti Cina. Penguasa lautan seperti dongeng Benua Atlantis yang hilang, bangsa pertama yang mengenal teknik pelayaran.
Suara Wakil Rakyat menilai Bangsa Indonesia telah lupa akan jati dirinya. Tidak seperti Nenek Moyangnya yang menguasai lautan, Negara Indonesia masih hidup miskin di sektor kelautan. Banyak nelayan yang tidak dapat hidup sejahtera, karena Pemerintah tidak mampu memahami kebutuhan utama para nelayan Indonesia. Data BPS menunjukan angka kemiskinan nasional mencapai 18% dan bahkan 62% jika mengacu pada standar Bank Dunia.
Dalam Rapat Kerja bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, mendorong perlunya pendekatan terpadu antara kesejahteraan dan keamanan untuk mengatasi kemiskinan nelayan dan memberantas praktek illegal fishing, khususnya di laut-laut seperti Natuna dan Teluk Tomini, yang hampir tidak ada nelayan di sana. (RSE/01)







