Oleh : Ben Adriansah
Politisi Indonesia harus meniru aliran politik Prabowo. Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini tahu kapan memainkan bidaknya dan tak mau hal yang bersifat negatif terulang kembali. Sekalipun kritikan tidak kunjung berhenti terhadap langkah politik yang dijalankan oleh Ketua Umum Partai Gerindra ini, namun hingga setahun pemerintahannya Prabowo masih cukup tegar.
Masih segar dalam ingatan kita para mahasiswa berdemonstrasi menuntut agar anggota Dewan Perwakilan Rakyat lebih santun dalam bertindak dan bertingkah laku serta sedikit lebih merakyat. Demo besar besaran tersebut akhirnya berujung anarkis terkait seorang pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan yang tewas terlindas kendaraan taktis pihak kepolisian dan memicu amuk massa terhadap kantor polisi di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengungkit ungkit peristiwa kelam tersebut tetapi sesuai dengan benang merah tulisan ini, dari situlah berawal. Saat kolom ini sedang disusun Presiden Republik Indonesia yang kedelapan ini sedang berada di Malaysia guna menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke 47. Namun sebelum lawatan itu dilakukan, Prabowo memanggil secara mendadak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ke Istana Negara.
Publik bertanya tanya, apa gerangan yang disampaikan Prabowo pada anak buahnya itu. Kuat dugaan Prabowo mewanti wanti pada Kapolri warisan mantan presiden Joko Widodo ini untuk menjamin keamanan Kamtibmas selama beliau berada di Malaysia dengan jaminan jabatannya
Analisa selanjutnya adalah jika terjadi demo atau kerusuhan di Jakarta dengan eskalasi yang tidak jauh berbeda, maka negeri ini akan memiliki Kapolri baru. Seperti kasus keracunan makan bergizi gratis yang disusul dengan pencopotan pejabat tingkat pusat yang berwenang.
Politik Prabowo adalah politik tanggung jawab, dimana para menteri atau pejabat setingkat menteri harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di wilayah kerjanya. Itu bagus. Itu sangat positif. Itu dapat menularkan pada pemangku kepentingan tingkat nasional untuk berbuat serupa pada bawahannya.
Dalam pada itu Prabowo kedepannya akan menjalankan strategi politik ini dengan santun. Ada 3 hal pokok yang harus dipikirkan oleh Presiden Prabowo dalam melangkah terkait situasi politik dewasa ini.
Pertama, terkait isu yang beredar di tengah tengah masyarakat dimana dengan menangnya Prabowo – Gibran dalam Pilpres 2024 lalu, diprediksi Prabowo tidak akan menjabat sampai akhir masa jabatannya. Rumor yang beredar adalah hanya dua tahun, setelah itu Gibran naik jadi Presiden. Analisanya adalah seorang Prabowo Subianto bukan sembarang orang. Beliau sudah mengetahui hal tersebut. Prabowo sudah menghitung kalkulasi langkah yang tepat. Terbukti hingga saat ini masih baik baik saja.
Dan lawan politiknya pun akan penuh perhitungan disini tidak perlu ditulis namanya, masyarakat luas sudah mengetahuinya. Tapi tenang saja, Prabowo tidak sendirian. Rakyat Indonesia akan mendukung penuh jika kondisi terburuk secara inkonstitusional terjadi, semisal Prabowo di-sakit-kan layaknya Soekarno dulu. Tapi hal tersebut tidaklah mungkin. Zaman sudah berubah!
Kedua adalah upaya untuk memakzulkan Gibran Rakabuming Raka. Sosok anak muda yang satu ini memang sedang dipayungi keberuntungan. Rekor pentas politik nasional pecah oleh putra sulung Joko Widodo ini. Secara konstitusional memang benar, tapi patut dan pantas jauh panggang dari api. Amat tidak pantas seorang Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar Panjaitan menjadi anak buah Gibran. Didukung Gibran sendiri tidak mengerti apapun selain acara seremonial belaka. Ini kenyataan. Ini pasti. Ini hanya upaya Joko Widodo untuk melanggengkan dinasti politiknya. Tetapi dengan cara cara yang kurang elegan. Cara cara yang penuh dengan kemunafikan. Cara cara yang meruntuhkan kebaikannya selama 9 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia silam. Tapi sudahlah. Saat ini okelah berlindung dibalik kata kata konstitusional. Ada trik tertentu nantinya yang akan dijalankan oleh Prabowo untuk meminggirkan Gibran. Penulis memprediksi cara cara elegan seperti memanggil Kapolri yang sudah diterangkan diatas mungkin akan dimainkan. Siapapun tidak akan tahu apa yang terjadi namun tanda tanda kerah hal tersebut terlihat. Pertama perlahan tapi pasti Prabowo sudah mulai meminggirkan menteri menteri Joko Widodo. Kedua sudah dua bulan terkahir ini Prabowo tidak lagi sowan ke Solo. Justru Joko Widodo yang ke Hambalang. Semua serba pelan pelan. Tidak grasa grusu yang akan melahirkan chaos jika dilaksanakan.
Ketiga adalah tidak terlalu banyak meminta saran pada Joko Widodo. Bagus. Jika selama ini masyarakat muak dengan kata kata yang terlontar dari mulut Prabowo bahwa dia masih meminta saran pada Joko Widodo, yang pada kenyataannya belum pernah Presiden Republik Indonesia terdahulu berbuat hal yang serupa. Bahkan tidak melibatkan sama sekali pendahulunya.
Langkah positif politik Prabowo ini harus terus dikawal sampai akhir masa jabatannya dan bila perlu terbukti rakyat Indonesia lebih sejahtera ketimbang sebelumnya, mantan suami Soeharto ini layak dipilih kembali tetapi pasangannya tidak Gibran Rakabuming Raka. Semoga







